Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Tuesday, 16 August 2016

Sepenggal Cerita Sebuah Radio Yang Berjasa Dalam Kemerdekaan Indonesia



“Republik Indonesia masih ada, karena pemimpin republik masih ada, tentara republik masih ada, pemerintah republik masih ada, wilayah republik masih ada dan disini adalah Aceh”.

Begitulah berita yang tersiar melalui stasiun radio berkekuatan satu kilowatt pada frekuensi 19,25 dan 61 meter bernama radio Rimba Raya. Letak Radio Rimba Raya adalah di Desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah Kabupaten Bener Meriah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Yang kemudian ditempat ini dibangun sebuah monumen yang diresmikan oleh Menteri Koperasi Bustanil Arifin pada tanggal 27 Oktober 1987.


Radio ini benar-benar telah memegang sebuah peranan yang sangat penting di dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan para penjajah. Meski keberadaannya di tengah rimba tetapi radio ini telah berhasil menyampaikan berita yang begitu sangat penting, berita yang begitu sangat mengembirakan ke berbagai belahan dunia.

Sepenggal Cerita Sebuah Radio Yang Berjasa Dalam Kemerdekaan Indonesia
Monumen Radio Rimba Raya (abulyatama.ac.id)

Dalam sejarah tercatat di dalam menyampaikan berita gembira bagi seluruh warga Indonesia tersebut, beberapa radio lain dapat mendengarnya. Radio di Semenanjung Melayu, Singapura, Vietnam, Australia bahkan sampai dengan radio di Eropa dapat mendengarnya dengan sangat jelas.

Dan kerennya lagi, radio Rimba Raya tidak hanya mengudara untuk kepentingan umum saja, radio Rimba Raya juga berperan penting di dalam mengawasi dan mengirim berbagai pengumuman penting bagi kegiatan angkatan bersenjata Republik Indonesia. 

Radio Rimba Raya letaknya boleh di dalam hutan yang mungkin pesonanya sangat jauh kalah dengan kota-kota besar yang ada ketika itu. Tetapi perlu diketahui Radio Rimba Raya tidak hanya menggunakan satu bahasa saja dalam melakukan siarannya, Radio Rimba Raya menggunakan sampai dengan lima bahasa (bahasa inggris, Belanda, Cina, Urdu dan tentunya bahasa Arab).

Radio Rimba Raya hadir dengan kemampuannya di dalam membakar semangat para pejuang Indonesia yang memang tidak mengenal lelah di dalam melakukan perlawanan terhadap para penjajah. Berbagai nyanyian rakyat yang mengandung unsur penyuntik semangat juga sering terdengar dari Radio di dataran tinggi Gayo tersebut.

Radio ini terus berperan sampai dengan saat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tanggal 27 Desember 1949 di Jakarta sebagai hasil Konfrensi Meja Bundar di Den Haag.

Sebelum berada di Bener Meriah sang pelopor kopi Aceh kualitas Internasional. Radio Rimba Raya sering berpindah-pindah keberadaannya untuk memperoleh posisi yang cocok untuk menyampaikan pesan-pesan perjuangan. Bahkan sejarah mencatat Di Banda Aceh radio ini juga sempat berdiri yaitu di desa Cot Gue.

Keberadaan Radio tersebut di Banda Aceh ternyata tidak begitu mulus karena terjadi agresi Belanda ketika itu. Akhirnya radio dipindahkan ke daerah Burni Bius di Aceh Tengah, sesampai disana rencana harus kembali diubah karena intaian pesawat Belanda yang terus mengawasi, dan Jadilah Rimba Raya sebagai tempat berdirinya sang radio yang memainkan peran penting di dalam kemerdekaan Republik Indonesia.

Itulah sepenggal kisah heroiknya Aceh yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Tidak perlu ibu kota negara berpindah ke Banda Aceh sebagai hadiahnya, cukup beri Aceh perhatian agar tidak ada lagi air mata dan nyawa yang melayang begitu saja Baca Juga :Luar Biasa, Ternyata Ini Pesawat Garuda Indonesia Yang Pertama
Selengkapnya

Monday, 25 July 2016

Ajaib, Bocah Ini Bisa Mengapung di Dalam Kedalaman Air Laut

Ada sebuah kisah menarik yang terjadi pada seorang bocah bernama Putra di sebuah kampung di kabupaten Aceh jaya provinsi Aceh. Bocah berusia 13 tahun tersebut ternyata bisa mengapung di dalam kedalaman air laut. Benar-benar sebuah kemampuan yang tidak masuk akal.

Cerita bermula ketika Putra sedang menikmati sebuah pertandingan futsal di layar kaca antara dua SMA ternama dari ibu kota Jakarta di sebuah stasiun televisi swasta. Putra duduk tepat di depan televisi, bola matanya yang bulat berpadu dengan bulu mata lentiknya begitu serius di dalam menyaksikan pertandingan sepakbola mini tersebut.

"jauh ke depan. Serangan berbahaya bung, nyaris saja!!!" teriak komentator pertandingan futsal yang semakin seru dengan kedudukan skor kacamata alias masing belum ada satu biji gol yang terjadi. Pertandingan terus berlanjut suara komentator bercampur baur dengan suara penonton yang terus membakar semangat para pemain yang sedang bertarung di atas lapangan.

Kondisi Aceh Jaya setelah diterjang tsunami

Suara kendaraan sesekali memecah keheningan kampung Putra yang terletak di dekat jalan lintas nasional Aceh - Medan tersebut. Putra tak bergeming dari duduknya. Dia semakin fokus menatap layar kaya sambil menghayal suatu hari nanti juga bisa menikmati indahnya bermain bola di atas lapangan bola mini yang diberi nama futsal.

Tiba-tiba bumi bergetar. "gruukk!!" kuat sekali, gempa bumi terjadi. Bumi terus bergetar seakan-akan hendak mengeluarkan segala isi yang ada di perutnya. Putra tidak bergerak dari posisi duduknya, rasa takut dan panik karena belum merasakan gempa sekuat ini membuat Putra sama sekali tidak dapat bergerak. Televisi mati dengan sendirinya karena listrik padam akibat beberapa tiang telah bertumbangan.

"Putra...Putra!!!!, keluar nak!" suara perempuan tua yang sudah tidak asing lagi terdengar nyaring dari arah luar sana. Dengan sigap Putra meninggalkan posisi duduknya dengan terburu-buru karena takut rumah ambruk menimpa dirinya.

Diluar, Putra bergabung bersama ibu dan kakak tercintanya. Mereka semua berkumpul di halaman rumah yang banyak ditumbuhi rumput indah dengan beberapa tanaman hiasnya.

"Berzikir nak!!" Ibu Putra yang berbadan tinggi itu memeluk erat Putra dan juga kakaknya. Bumi masih bergetar seakan-akan tidak mau berhenti juga. Rumah bergoyang ke kiri dan ke kanan seperti para penari yang sedang beraksi di atas panggung hiburan.

"Allah Akbar, Ya Allah hentikan gempa ini, jauhkan kami dari bencana ini" Ibu terus berdo'a dengan wajahnya yang telah berubah warna menjadi pucat. Wajah ibu begitu kelihatan gelisah karena sang ayah sedang mencari nafkah di lautan yang jauh disana sebagai seorang nelayan.

Putra juga tidak kalah panik. Sifatnya yang selalu usil dan ceria mendadak berubah tak ada kata-kata yang keluar dari mulut berbibir tipis miliknya. Di dalam pikiran Putra ia ingin gempa segera berhenti agar dia bisa melanjutkan liburan di hari minggunya dengan bermain bola dan sepeda dengan rekan-rekannya di perkebunan kelapa yang begitu luas di kampungnya.

Kini harapan menjadi kenyataan setelah hampir sepuluh menit gempa mengguncang bumi, gempa akhirnya berhenti. Tak ada kerusakan berarti pada rumah milik Putra dan keluarganya, hanya sedikit retak di bagian sudutnya saja.

Suara orang-orang kembali terdengar. Mereka semua heboh menceritakan pengalaman pertama mereka merasakan gempa yang sangat kuat yang pernah terjadi di Indonesia. Ibu dan kakak Putra memutuskan kembali masuk ke rumah karena ingin melanjutkan aktifitas masaknya yang sempat tertunda akibat gempa yang melanda.

Putra tetap berdiam diri di halaman rumah sambil memasang telinga mendengar berita dari setiap orang yang lalu lalang disana. Diantara pembicaraan orang-orng tersebut terdengar jelas ada berita bahwa jembatan besi terbesar di kampungnya hampir saja putus akibat guncangan gempa.

Sebagai seorang anak yang memiliki rasa penasaran yang begitu tinggi. Putra bergerak menuju dapur untuk meminta izin kepada ibunya agar dibolehin untuk melihat secara langsung jembatan besi yang katanya hampir putus tersebut.

"Mak! Putra pergi lihat jembatan boleh?" Putra memasang wajah memelas agar sang ibu memberi dia izin untuk pergi melihat jembatan yang letaknya hampir lima ratus meter dari rumahnya.

Jembatan Panga Aceh pada tahun 2004 sebelum tsunami menerjang

"Sarapan dulu. Pagi-pagi udah pergi main" Jawaban dari ibu benar-benar tidak membuat Putra puas. Putra tidak membantah, Putra justru melangkah mengambil piring dan nasi untuk menyantap sarapan sebagai sebuah tiket agar ibu memberi dia izin untuk pergi.

Hanya butuh beberapa menit saja, Putra telah menghabiskan sarapannnya dengan lauk ala kadarnya karena memang ibu dan kakaknya belum sepenuhnya selesai memasak.

"Mak! Boleh ya ?" Putra kembali bertanya kepada ibunya agar memberi izin kepada dirinya untuk pergi melihat jembatan yang hampir putus.

"Hmm.. Ya boleh, tolong beliin Mak tepung terigu ya sebentar!" Ibu memberi izin kepada putra sambil menyerahkan uang sepuluh ribu untuk membeli tepung terigu di pasar.

Putra pergi dengan menggunakan sepeda ontel milik ayahnya yang tersandar rapi di dinding dapur yang terbuat dari papan berkualitas rendah.  Tubuh mungil Putra sepertinya sudah begitu ahli di dalam menaklukkan sepeda yang dikhususkan untuk orang yang sudah dewasa tersebut.

Jalanan nasional yang beraspal rapi yang lurus kini telah berubah menjadi zig-zag. Putra sedang melewati markas Tni yang sengaja dipasangin drum minyak secara selang-seling agar setiap kendaraan yang melintas menjadi lamban lajunya.

Terlihat beberapa prajurit sedang melakukan olah raga pagi di dalam pagar Masjid yang berdekatan dengan markas mereka. Putra hanya tersenyum melihat prajurit yang sering mengajaknya bercanda. Putra terus melaju hingga ia benar-benar tiba di jembatan yang kata orang-orang hampir putus.

Di atas jembatan terdapat banyak sekali orang yang datang untuk menghilangkan rasa penasarannya. Tubuh mungil Putra tidak membuatnya mampu melihat bagian jembatan yang katanya hanya mengalami retak biasa saja.

Tetapi Putra tidak mau menyerah begitu saja, dia terus bergerak agar rasa penasarannya bisa sepenuhnya terobati. Entah kenapa Putra malah melihat ke arah sungai yang tedapat di bawah jembatan. Pemandangannya begitu berbeda, sungainya berombak bagaikan lautan saja.

Putra kaget dan bingung. Putra berputar badan dan mengambil sepeda berlari sambil berteriak air laut naik kepada setiap orang yang dilaluinya.

"eleh kau bilang apa?" seorang pedagang pisang yang sedang berdagang yang letaknya tidak jauh dari jembatan mengira Putra hanya ngaur berbicara tidak jelas.

Putra terus menggowes sepedanya kembali ke rumah. Putra tidak berlari menuju ke arah gunung yang lebih aman. Ikatan batinnya dengan ibunya begitu kuat membuat Putra lebih memilih pulang ke rumah. Putra berhasil sampai ke depan rumahnya dengan nafas terpotong-potong karena kelelahan.

Jembatan Panga Aceh Jaya setelah tsunami terjadi

Suasana menjadi panik. Ibu dan kakaknya sudah berlarian keluar. Suara gemuruh ombak besar terus mendakati perkampungan warga. Putra mengikuti langkah ibunya dengan sepeda yang masih dia pegang di tangan kecilnya.

Putra tidak melempar sepedanya. Putra meletakkannya secara baik-baik di dekat pos ronda yang terletak di depan SMPN 1 Panga Aceh Jaya. Putra bersama ibu dan kakaknya yang memegang piring karena sedang memasak tadi hanya berdiri mematung di dekat pos ronda. Mereka menyaksikan rumah mereka yang penuh kenangan indahnya dilumat oleh air laut yang membuatnya hilang entah kemana.

Ajaib, Bocah Ini Bisa Mengapung di Dalam Kedalaman Air Laut
Gedung SMPN 1 Panga Aceh rata dengan tanah setelah disapu oleh ombak tsunami

"lari... jangan berdiri disitu!!!!" Teriakan dari para TNI yang terus berusaha menyelamatkan warga membuat mereka kembali melangkah kakinya.

Putra menatap mata ibunya sambil menarik-narik tangan keribut orang yang telah melahirkannya ke dunia tersebut, "Mak... ayah kita Mak" Putra berteriak teringat akan nasib ayahnya yang sedang mencari nafkah di laut sana. Ibu tidak menjawab apa-apa, pandangannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Mak. Rumah kita sudah tidak ada. Ambil ini Mak, karena cuma ini sekarang yang kita punya" Putra mendadak bertingkah bagai orang dewasa saja. Putra meyerahkan uang sepuluh ribu rupiah yang tadi ibu berikan kepadanya sebelum pergi melihat jembatan untuk membeli tepung terigu.

Ibunya mengambil uang tersebut dengan gerakan tangan yang tidak bersemangat. Uang itu ibu ikat tepat di ujung kain handuk warna hijau milik Putra yang ibu jadikan sebagai penutup rambut sebagai aurat seorang wanita. Bencana tsunami tersebut membuat ibu tidak sempat mamakai jilbabnya

Putra beserta kakak dan ibunya kembali terdiam di depan sekolah menengah pertama di Panga Aceh Jaya. Suara pecahan kaca rumah warga dan suara teriakan manusia menjadi satu.

"Lari... lari. jangan ada yang berdiri" Teriakan prajurit Tni kembali terdengar sambil sesekali menembak ombak besar yang semakin mendekat.

Mereka semua lari. air laut mulai menyentuh telapak kaki mereka. SMPN 1 Panga dan pos ronda yang terletak di depannya sekarang semua telah rata. Langkah Putra, ibu, kakaknya dan seluruh warga harus terhenti tidak ada lagi jalur untuk berlari. Sebuah rawa dan sungai telah menghadang di depan.

Ajaib, Bocah Ini Bisa Mengapung di Dalam Kedalaman Air Laut
Rawa dan sungai ini membuat Putra dan ibunya berpisah

Pilihan cuma satu, yaitu pasrah di hantam oleh ombak besar. Putra memegang erat tangan sang ibu dan juga kakaknya. Dalam hitungan detik ombak besar itu telah menghantam mereka. Putra sempat melihat ibunya yang  berdiri disampingnya tidak hanya di terjang oleh ombak besar, tetapi juga sebuah balok besar yang terseret arus memukul keras di bagian belakang leher ibunya tercinta. Ibu roboh entah kemana. Pegangan erat mereka dengan penuh rasa cinta terlepas begitu saja atas kehendak Sang Maha Pencipta.

Badan Putra terlempar bagaikan kapas yang begitu ringan. Putra terbawa bersama gerakan air laut yang tidak mengenal teriakan minta ampun anak manusia. Putra mengapung di dalam kedalaman air laut dengan sebuah sendal masih menempel di kakinya.

Putra pasrah sambil memejamkan mata bersiap menerima ajal dari Allah. Putra melepaskan sendal kesayangan pembelian ibunya hasil dari jerih payah mencari nafkah untuk anak kesayangannya. Satu persatu sendal itu terpisah dari kaki putra layaknya ombak dan balok besar memisahkan Putra dan ibunya.

Putra benar-benar sudah siap untuk menikmati nafasnya yang terakhir. Tubuh Putra terombang-ambing dengan belaian kayu-kayu kecil yang terbawa air menyentuh kulit hitam tipisnya. Namun Allah berkata lain, Putra yang tidak bisa berenang terangkat ke permukaan air dengan beberapa papan di sampingnya untuk dijadikan tempat untuk menyelamatkan jiwanya.

Putra hanya seorang diri di tengah kepungan air di hutan yang tidak jelas alamatnya. Putra telah Allah selamatkan dengan cara yang tak pernah diduga. Putra menyantap makanan ringan yang terbawa air di depan matanya.

Satu bulan telah berlalu, Putra terduduk diam di depan tenda pengungsian sambil menunggu ibu, ayah dan kakaknya yang tak kunjung kembali jua. Mata bulat Putra begitu tajam setiap melihat relawan yang membawa jenazah dengan kantong warna kuningnya. Putra berharap ada jenazah keluarganya disana.

Hari demi hari penantian panjang putra tak kunjung datang juga. Ibu, ayah dan kakak tercintanya telah pergi selamanya tanpa meninggalkan sedikit jejak yang dapat dilihat jika rasa kangen melanda. Semoga Allah mengampuni segala dosa mereka dan surga menjadi tempat terbaiknya.

Sekarang Putra lagi terduduk dengan laptop di tangannya sambil menulis sepenggal kisah yang tidak patut diratapi dengan segala pahit manis di dalamnya. Sekian. Baca Juga : Fakta Tsunami Aceh
Selengkapnya

Cara Raja Aceh Memanjakan Sang Istri Tercintanya

Masih nuansa bulan Syawal. Banyak pemandangan yang 'mengerikan' bagi para jomblo yang belum juga menemukan pasangan terbaiknya. Setelah hari raya idul fitri di Indonesia banyak orang yang melepaskan masa lajangnya. Banyak pemuda yang menjadi raja dan para gadis yang manjadi putri sehari yang membuat para jomblo semakin nyaring meratapi nasibnya agar segera bisa memiliki papan bunga "Selamat & Bahagia".

cara raja aceh memanjakan sang istri
Di dalam acara pernikahan, puan (tempat menghidangkan sirih) sering kita jumpai (helloacehku.com)

Menikah merupakan sebuah perbuatan mulia, dengan menikah kita bisa terhindar dari perbuatan terkeji yang dapat mencoreng nama baik keluarga. Nah ternyata setelah menikah semua bebas mau ngapain saja bersama pasangan halalnya. Manja dan mesra tentu tidak dapat dilewatkan begitu saja.

Sebagai seorang suami sangat dianjurkan untuk memanjakan istrinya agar rumah tangganya bisa selamanya bahagia. Salah satu bentuk cara memanjakan istri adalah dengan cara memberikan mereka hadiah. Di dalam sebuah Hadits Rasulullah bersabda : "Salinglah memberi hadiah diantara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai" (HR. Bukhari). Jadi, biar cintanya semakin sehat dan kuat sering-seringlah memberi hadiah satu sama lain ya!

Untuk urusan memberi hadiah kepada istri sebagai sebuah cara memanjakan istri, raja Aceh Sultan Iskandar Muda telah memberikan kita contoh yang sangat mesra. Bukan lilin atau balon sambil nyanyiin lagu ulang tahun yang sang raja lakukan. Tetapi yang raja Aceh lakukan sangat luar biasa efeknya tanpa meninggalkan kesan alay di dalamnya. Penasaran bagaimana raja Aceh memanjakan istri tercintanya? mari sama-sama kita baca bagaimana cara raja Aceh memanjakan sang istrinya.

Sebelum kita bahas cara raja Aceh memanjakan sang istrinya lebih baik kita kenalan dulu sama raja Aceh bernama Sultan Iskandar Muda. Ibarat sebuah film, jika kita pengen nonton film tentu kita harus tau dulu siapa-siapa saja tokoh yang terlibat di dalamnya. Jika gak filmnya bakal garing tidak enak sama sekali.

Sultan Iskandar Muda merupakan seorang pria kelahiran tahun 1593. Sultan Iskandar Muda merupakan sultan yang paling besar di dalam masa kesultanan Aceh. Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) nama Aceh begitu harum di mata Internasional, Aceh begitu disegani oleh bangsa luar. Perdagangan dan pendidikan Islam menjadi beberapa andalan yang ditawarkan oleh Aceh ketika itu.

Sultan Iskandar Muda bukan hanya pintar di dalam menaklukkan berbagai bangsa. Sultan Iskandar Muda juga terkenal sangat lihai di dalam membuat wanita jatuh cinta oleh jiwa kepemimpinannya. Selera sang raja tidak tanggung-tanggung, beliau berhasil menikahi seorang putri dari kesultanan Pahang Malaysia. Nama istri Sultan Iskandar Muda dikenal dengan sebutan Putroe Phang atau Putri Kamilah. 

Karena telah menikah dengan raja Aceh, Putroe Phang harus menetap di Istana kerajaan yang terdapat di Aceh. sebagai anak baru merantau, Putroe Phang sering merasakan rasa kangen terhadap kampung halamannya  yang terkenal berbukit.

Sultan Iskandar Muda tidak mau sang kekasih tercinta yang cantik jelita itu bersedih. Akhirnya Sultan Iskandar Muda membuat sebuah taman yang dikenal dengan sebutan gunongan yang menyerupai bukit agar rindu sang kekasih terhadap kampung halamannya yang jauh di mata dapat terobati. Ternyata cara yang sang raja lakukan terbukti berhasil membuat istrinya bahagia

Buat yang penasaran bisa langsung datang ke Aceh karena taman ini terbuka untuk umum (commons.wikimedia.org)

Dan di taman yang raja berikan kepada istrinya terdapat tempat mandinya juga. Sang putri sering mandi ria disana disaat sang raja sering berpergian karena menjalankan tugasnya. Mesra sekali bukan? benar-benar suami yang sempurna dengan memberikan sebuah hadiah yang begitu indah dipandang mata. Siapa sih yang gak iri jika melihatnya.  
Selengkapnya

Saturday, 23 July 2016

Keindahan Alam Kampung si Gadis Mata Biru Keturunan Portugis di Lamno Jaya

Lamno merupakan sebuah daerah yang terletak di Aceh Jaya. Di Lamno banyak sekali hal yang begitu menarik, keindahan pantai dan kenikmatan duriannya menjadi beberapa diantara sekian banyak pesona lainnya. Meski Lamno menyimpan ribuan keindahan alam tetap saja yang menjadi nama Lamno begitu sering terdengar adalah karena disana terdapat warganya yang mirip dengan bangsa portugis dengan ciri khas mata birunya.

Setelah Tsunami melanda, keberadaan keturunan portugis yang terdapat di Lamno semakin sedikit. Banyak diantara mereka yang telah meninggal dunia ketika ombak datang menerjang tanoh Po Teumeureuhom tersebut. 

Menurut teman sebangku kuliah saya dulu di Kuta Raja (nama lain kota Banda aceh) bernama Teuku Fuadi putra asli Lamno Jaya, keberadaan warga keturunan portugis dan si gadis mata birunya sekarang sudah masuk kategori limited edition. 

Selain karena faktor tsunami yang membuat warga keturunan portugis semakin sedikit. Faktor banyak diantara mereka yang memilih untuk merantau juga ikut andil di dalamnya. "Sekarang mereka hanya sedikit, tidak sebanyak dulu (sebelum tsunami). Mereka banyak yang meninggal waktu tsunami. Dan ada beberapa orang dari mereka pergi merantau untuk bekerja dan pergi meninggalkan kampung karena menikah dengan orang di luar daerah Lamno" kata seorang bapak-bapak yang usianya tidak lagi muda dengan logat bahasa Aceh yang masih sangat kental.

Menurut sejarah. Awal mula munculnya keturunan portugis di Lamno Jaya adalah ketika bangsa portugis mendarat di Lamno (sekitar tahun 1492-1511). Para bangsa Portugis ketika itu diceritakan mengalami kerusakan kapal mereka, mereka tidak diizinkan mendarat di Lamno sampai mereka harus menyerah kepada raja Daya.

Hari demi hari para bangsa Portugis berbaur dengan masyarakat pribumi Lamno yang ketika itu merupakan sebuah daerah yang kaya akan rempah-rempah yang berkualitas. Bangsa Portugis diajarkan bahasa Aceh dan adat istiadat Aceh. Dan mereka dibenarkan untuk menikahi pribumi dengan sebuah syarat yang sangat sederhana yaitu memeluk agama Islam. Dari situlah awal mula terlahir gadis mata biru keturunan portugis di Lamno Jaya.

Sebagai pelengkap saya akan berikan beberapa foto keindahan alam kampung si gadis mata biru keturunan Portugis di Lamno Jaya sebagai hiburan waktu rehat teman-teman semua :


keindahan Alam Kampung si Gadis Mata Biru Keturunan Portugis di Lamno Jaya
Jalanan indah dihimpit gunung dan laut menawarkan sensasi berbeda untuk berkunjung ke Lamno Aceh Jaya


Keindahan Alam Kampung si Gadis Mata Biru Keturunan Portugis di Lamno Jaya
karena keindahan alam dan sejarah gadis mata birunya, tempat wisata di Lamno Jaya selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Dan tidak perlu khawatir akan rasa lapar melanda, di Daerah gunung Geurutee terdapat banyak sekali kios-kios yang menjual beragam makanan ringan dan mie Aceh yang terkenal nikmatnya. 


Keindahan Alam Kampung si Gadis Mata Biru Keturunan Portugis di Lamno Jaya
Disaat kita mampir di kios-kios yang berbaris rapi di pinggir jalan, kita tidak hanya ditawarkan makanan dan minuman nikmat tetapi juga pemandangan indah laut yang terbentang luas begitu memanjakan mata dengan angin sepoi-sepoinya. Dan menariknya pedagang disini dengan mudah kita ajak bicara. Hasil pembicaraan saya dengan pedagang disini salah satunya adalah mengenai pulau kecil yang terlihat itu, pulau kecil itu dulunya sebelum tsunami tidak terpisah seperti yang terlihat di gambar, pulau itu terputus dengan daratan Lamno ketika tsunami menerjang.

Keindahan Alam Kampung si Gadis Mata Biru Keturunan Portugis di Lamno Jaya
Warga Lamno bukan tipikal manja dan meratapi nasib ketika bencana melanda. Mereka bangkit menatap kehidupan dengan cara membuat tambak ikan sebagai sumber rezeki untuk menjalani hari-hari menyenangkan di kaki gunung Geurutee
Keindahan Alam Kampung si Gadis Mata Biru Keturunan Portugis di Lamno Jaya
Tidak hanya membudidayakan ikan. Warga Lamno juga memelihara kerbau yang sering dijual belikan ke Banda Aceh dan beberapa wilayah lainnya. Di Aceh kerbau merupakan binatang yang sering dikonsumsi ketika menjelang ramadhan dan hari raya.

Keindahan Alam Kampung si Gadis Mata Biru Keturunan Portugis di Lamno Jaya
Kerbau ini dilepas begitu saja di area yang sangat luas jauh dari jalan raya tepat di bawah gunung Geurutee tempat singgahan wisatawan yang berkunjung ke Lamno Aceh Jaya
Keindahan Alam Kampung si Gadis Mata Biru Keturunan Portugis di Lamno Jaya
Tidak hanya kerbau ternyata yang menjadi idola peliharaan warga Lamno Aceh jaya, Sapi juga termasuk dalam ketegori binatang peliharaan warga disana.

Keindahan Alam Kampung si Gadis Mata Biru Keturunan Portugis di Lamno Jaya
Langit biru perlahan berubah menjadi gelap, pertanda sang malam mau menyapa. Kampung si Portugis di Lamno Jaya masih saja enak di pandang mata. Semoga Lamno Jaya selalui dalam lindungan-Nya

aceh jaya mata biru
Dari kios tempat kita singgah, kita dapat melihat dua pulau kecil yang dulu merupakan perkampungan warga yang sekarang hanya tersisa batang kelapa dan sarang burung walet saja.
Itulah sepengggal kisah dari kampung si gadis mata biru keturunan Portugis di Lamno Jaya. Semoga kita dapat berkunjung kesana dan jika beruntung akan mendapatkan gadis dan perjaka keterunan portugis dari Naggroe Daya. Sebelum saya akhiri saya ingin berpesan "tetap waspada. Karena sekarang banyak gadis mata biru palsu yang berkeliaran di beberapa sudut kota, awas jangan terkecoh" Baca Juga : Peumulia Jamee, Adat Aceh Perintah Nabi
Selengkapnya